Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

El Nino Mengintai Indonesia, Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat

by dimas
Maret 6, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Musim kemarau tahun 2026 berpotensi datang lebih cepat dari biasanya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melihat tanda-tanda perubahan pola iklim global yang bisa mendorong kemunculan fenomena El Nino, kondisi yang biasanya membawa cuaca lebih panas dan lebih kering ke wilayah Indonesia.

Perubahan ini muncul setelah fenomena La Nina lemah berakhir pada Februari 2026. Kini, sistem iklim global bergerak menuju fase netral. Namun, para ilmuwan memperkirakan fase tersebut tidak akan bertahan lama. Dalam beberapa bulan ke depan, kondisi atmosfer dan suhu laut di Samudera Pasifik berpotensi berkembang menuju El Nino.

Jika prediksi ini benar, sebagian besar wilayah Indonesia akan menghadapi musim kemarau lebih awal sekaligus lebih kering.

Perubahan Iklim Global Mulai Terlihat

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa pemantauan terbaru terhadap anomali iklim global menunjukkan indeks ENSO berada di angka -0,28, yang menandakan kondisi netral.

Kondisi ini kemungkinan bertahan hingga Juni 2026. Namun setelah itu, peluang kemunculan El Niño kategori lemah hingga moderat mulai meningkat.

Ini Belum Selesai

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

“Probabilitasnya sekitar 50-60 persen pada semester kedua tahun ini,” ujar Faisal dalam konferensi pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Sementara itu, indikator iklim lain seperti Indian Ocean Dipole (IOD) diperkirakan tetap berada pada fase netral sepanjang tahun. Artinya, pengaruh utama terhadap pola cuaca Indonesia kemungkinan besar tetap datang dari dinamika El Niño di Samudera Pasifik.

Kemarau Diprediksi Datang Lebih Awal

Perubahan pola angin menjadi salah satu tanda awal datangnya musim kemarau. Biasanya, musim kering dimulai ketika angin baratan (Monsun Asia) beralih menjadi angin timuran (Monsun Australia).

BMKG mencatat sekitar 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.

Wilayah yang lebih dulu mengalami kondisi kering meliputi:

  1. pesisir utara Jawa bagian barat
  2. sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur
  3. Nusa Tenggara Barat
  4. Nusa Tenggara Timur
  5. sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi

Selanjutnya, gelombang kemarau akan meluas pada Mei dan Juni.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa sekitar 184 ZOM (26,3 persen wilayah) akan memasuki kemarau pada Mei. Kemudian 163 ZOM lainnya (23,3 persen wilayah) akan menyusul pada Juni.

Jika dihitung secara keseluruhan, sekitar 325 ZOM atau 46,5 persen wilayah Indonesia akan mengalami awal musim kemarau yang lebih cepat dari biasanya.

Wilayah yang berpotensi mengalami percepatan kemarau meliputi:

  1. sebagian besar Sumatra
  2. Jawa dan Bali
  3. Nusa Tenggara
  4. Kalimantan bagian selatan dan timur
  5. sebagian besar Sulawesi
  6. Maluku
  7. sebagian Papua

Puncak Kemarau Diprediksi Terjadi Agustus

BMKG juga memproyeksikan puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus di sebagian besar wilayah Indonesia.

Sekitar 61,4 persen wilayah atau 429 ZOM diperkirakan mencapai puncak musim kering pada bulan tersebut.

Namun beberapa wilayah akan mengalami puncak kemarau lebih awal atau lebih lambat.

Sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan tengah dan utara, serta beberapa daerah di Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua diprediksi mengalami puncak kemarau pada Juli.

Sementara itu, sejumlah wilayah lain terutama Lampung, sebagian Nusa Tenggara Timur, Sulawesi bagian utara dan timur, serta sebagian Maluku dan Papua diperkirakan mencapai puncak kemarau pada September.

Pada fase ini, kondisi kering biasanya semakin meluas. Wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi berpotensi menghadapi cuaca panas dengan curah hujan sangat rendah.

Siapa yang Paling Terdampak?

Perubahan pola musim ini tidak hanya soal cuaca. Dampaknya langsung terasa pada sektor ekonomi yang bergantung pada air.

Pertama, sektor pertanian berpotensi menghadapi tekanan besar. Kemarau lebih awal bisa mengganggu jadwal tanam, menurunkan produksi pangan, bahkan memicu gagal panen di beberapa wilayah.

Kedua, sektor sumber daya air juga menghadapi risiko penurunan debit waduk dan sungai. Kondisi ini dapat memengaruhi pasokan air bersih sekaligus operasional pembangkit listrik tenaga air.

Karena itu, BMKG meminta pemerintah dan masyarakat mulai melakukan langkah antisipasi sejak sekarang.

Di sektor pertanian, petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam. Mereka juga perlu memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, hemat air, dan memiliki masa panen lebih singkat.

Di sisi lain, pemerintah perlu memperkuat pengelolaan sumber daya air. Revitalisasi waduk, perbaikan jaringan irigasi, dan penguatan distribusi air bersih menjadi langkah penting agar masyarakat tidak menghadapi krisis air saat kemarau memuncak.

Kemarau Bukan Sekadar Cuaca

Bagi sebagian orang di kota besar, kemarau mungkin hanya berarti udara lebih panas. Namun bagi petani, nelayan, hingga masyarakat desa yang bergantung pada air, musim kering sering berarti risiko ekonomi yang nyata.

Jika El Niño benar-benar muncul tahun ini, Indonesia bukan hanya menghadapi perubahan cuaca. Negara ini juga akan menghadapi ujian kesiapan sistem pangan, air, dan energi.

Dan seperti biasa, ketika musim berubah drastis, kelompok paling rentanlah yang pertama merasakan dampaknya. Sementara yang lain mungkin baru sadar ketika harga beras mulai naik di pasar. @dimas

Tags: 2026bmkgCuacaEkstremEl NinoGlobalIklimKetahananMusimNasionalPanasPanganPerubahanPrediksi

Kamu Melewatkan Ini

Pemalang Kering Tiga Bulan: 10.764 KK Menunggu Air, Ketahanan Sistem Diuji

Pemalang Kering Tiga Bulan: 10.764 KK Menunggu Air, Ketahanan Sistem Diuji

by teguh
September 26, 2026

Pemalang kering tiga bulan tanpa kepastian air mengubah kemarau menjadi persoalan sehari-hari bagi ribuan keluarga di Pemalang, Jawa Tengah. Tabooo.id...

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang, 10.764 KK Kini Bergantung pada Kiriman Air

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang, 10.764 KK Kini Bergantung pada Kiriman Air

by teguh
September 26, 2026

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang masih berlansung dan air bersih yang biasanya tinggal membuka keran kini berubah menjadi barang yang...

Laut Indonesia Tak Bersahabat, Gelombang 4 Meter Ancam Pelayaran

Laut Indonesia Tak Bersahabat, Gelombang 4 Meter Ancam Pelayaran

by dimas
September 10, 2026

BMKG memperingatkan gelombang hingga 4 meter dan angin kencang yang mengancam keselamatan pelayaran di sejumlah perairan Indonesia. Tabooo.id - Laut...

Next Post
Gunungan Rp58,1 Miliar Uang Judol di Mabes Polri, Disita Tanpa Tersangka

Gunungan Rp58,1 Miliar Uang Judol di Mabes Polri, Disita Tanpa Tersangka

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id